Jumat, 25 Mei 2012

Mushaf Sundawi

Mushaf Sundawi, 1997


‘Sundawi’ yang digunakan dalam Al-Qur’an Mushaf Sundawi adalah istilah yang dikaitkan dengan konsep desain dan tatanan iluminasi yang diterapkan pada setiap halaman mushaf ini. Pada prinsipnya ada dua jenis sumber inspirasi atau acuan desain yang digunakan. Pertama, yang referensinya berasal dari motif islami Jawa Barat, misalnya memolo mesjid, motif batik, ukiran mimbar, mihrab, dan artefak lainnya, dengan catatan bahwa motif-motif tersebut tidak bersifat anthropomorphic (dari bentuk manusia) ataupun zoomorphic (dari bentuk binatang). Jenis motif kedua, yaitu desain yang bersumber pada sejumlah flora tertentu yang khas Jawa Barat, seperti gandaria dan patrakomala.


Mushaf Sundawi.

Pembuatan Al-Qur’an Mushaf Sundawi diprakarsai oleh Gubernur Jawa Barat waktu itu, HR Nuriana, yang peresmiannya dilakukan pada tanggal 14 Agustus 1995 (17 Rabiul Awal 1416 H), pada peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. Pada kesempatan itu Gubernur membubuhkan “Basmalah” pada lembar awal mushaf sebagai simbol dimulainya penulisan Mushaf Sundawi. Untuk mewujudkan Al-Qur’an yang sahih dalam segi penulisannya dan estetis dalam segi perwajahannya, dibentuklah tim kerja yang terdiri atas para ulama, ahli kaligrafi (khattat), pakar estetika seni rupa Islam, desainer spesialis iluminasi, peneliti, iluminator, ahli komputer grafis, fotografer yang menunjang penelitian desain, serta para ahli lainnya yang membantu pelaksanaan secara umum, demikian pula para pentashih mushaf. Al-Qur’an Mushaf Sundawi selesai dikerjakan pada bulan Januari 1997. Manuskripnya disimpan di dalam peti yang didesain secara khusus.

Tim Pelaksana: Ide/prakarsa: R Nuriana (Gubernur Jawa Barat); Pembina: H Agus Muhyidin, HMA Sampurna, Drs H Ukman Sutaryan; Penanggung Jawab: Drs H Ragam Santika MM; Pengarah: Dr H Diharna (Ketua); Pelaksana Harian: Drs HM Sholeh (Koordinator); Bidang Perencana: Mahmud Buchari (Ketua), HM Faiz Abdurrazaq, Drs H Syarief Hidayat MHum, Dr Abay D Subarna; Bidang Kaligrafi: Drs Wahidin Loekman (Ketua), H Abdul Wasi, Baequni Yasin, Mahmud Arham, H Ahmad Hawi Hasan; Bidang Desain dan Iluminasi: Drs Achmad Haldani D (Ketua), dengan 23 anggota.

Data Teknis: Al-Qur'an Mushaf Sundawi dibuat di atas kertas jenis Conqueror Laid, tipe Ripple Art Special, warna China White, 250 gr, buatan Inggris. Dengan prinsip pembagian bidang golden section, dibuat bidang gubahan dengan ukuran tinggi 77,4 cm dan lebar 45,6 cm. Luas bidang untuk kaligrafi 38,2 x 54,55 cm. Jumlah halaman 763 halaman. Tinta yang digunakan adalah merek Dr. Ph. Martin's warna Black Star (buatan Amerika) untuk khat, dan cat akrilik Winsor & Newton (buatan Inggris) untuk iluminasinya. Sedangkan untuk emas murni terddapat dua jenis, yaitu emas serbuk dan emas lembaran (prada), masing-masing buatan Jepang dan Taiwan. Mushaf Sundawi menghabiskan 24.000 ml tinta warna dan 5.000 ml tinta hitam serta 1.500 gr emas prada dan 1000 gr emas murni serbuk, ratusan batang pena handam, 750 batang kuas, 350 pensil, dan 25 dus (12,5 kg) penghapus. Penggubahan outline motif iluminasi dibantu dengan dua perangkat lengkap komputer grafik, agar motif yang dihasilkan lebih halus, teratur, presisi, dan hemat waktu.

Sistem Kaligrafi: Setiap halaman terdiri atas 15 baris tulisan, kecuali halaman-halaman istimewa ummul-Qur'an (S al-Fatihah dan awal al-Baqarah), nisful-Qur'an (awal S al-Kahf), dan khatmul-Qur'an (S al-Falaq dan an-Nas) yang disesuaikan dengan bentuk dan ukurannya. Setiap juz terdiri atas 24 halaman, kecuali juz 1, 15, 19, dan 30 yang memiliki halaman lebih banyak demi kemudahan dan kenyamanan membaca. Jenis dan warna tulisan untuk teks adalah khat Naskhi dengan tinta hitam. Nama judul surah pada kotak adalah khat Kufi dengan emas murni dan outline hitam. Setiap lafaz Allah dan waqaf lazim ditulis dengan tinta merah. Basmalah pada awal Surah al-Kahf, awal Surah al-Falaq dan an-Nas ditulis dengan khat Sulusi, disesuaikan dengan bentuk bidang yang melengkung. Untuk memudahkan mencari ayat, pada nama surah di setiap halaman dilengkapi dengan nomor surah, demikian juga nama juz dengan nomor juz. Kedua item ini ditempatkan di sebelah bawah, di luar bingkai. Setiap awal juz selalu di halaman sebelah kanan (halaman ganjil). Penulisan ayat menggunakan sistem sudut, yaitu setiap halaman diakhiri nomor ayat (dalam bahasa Turki disebut āyet ber-kenār). Tataletak menggunakan sistem rata kiri-kanan, kecuali halaman doa Khatmul-Qur’an dan halaman Acuan Mushaf Sundawi yang simetris, dengan mengacu kepada bunyi kalimat, untuk memudahkan pembacaan dan pengaturan intonasi yang tepat sesuai dengan nada kalimatnya. Setiap awal surah paling kurang terdiri atas kepala surah diikuti basmalah dan baris pertama awal surah. Tanda-tanda seperti waqaf lazim, sajdah, ruku’, hizb, Makiyah/Madaniyah dibuat lengkap, dengan bentuk dan warna yang menonjol. Pentashihan ayat, selain dilakukan oleh tim intern penulis, juga secara formal ditashih oleh Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an, Departemen Agama RI, Jakarta, yang secara reguler datang ke Bandung.

Sistem Iluminasi: Iluminasi (to illuminate berarti ‘memberi cahaya’) bertujuan untuk mendukung ayat-ayat suci Al-Qur’an. Gubahan iluminasi Mushaf Sundawi terdiri atas bagian-bagian sebagai berikut:
(1) Tiara (mahkota), idenya diambil dari bentuk mamolo masjid Banten dan Cirebon, yaitu hiasan pada puncak atap masjid. Konsep mamolo diterapkan pada taira Mushaf Sundawi karena kedudukan mamolo yang terkait erat dengan konsep bangunan arsitektur tradisional masjid di Jawa Barat.
(2) Bingkai (frame), adalah gubahan ruang sebagai tempat untuk mengungkapkan ragam hias Jawa Barat yang diuntai mengelilingi ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan maksud memberikan dukungan makna ayat, sekaligus memberikan identitas Jawa Barat.
(3) Tanda-tanda baca, digubah dengan tujuan untuk lebih memperjelas peran tanda-tanda baca tersebut, sekaligus dapat dipakai sebagai unsur yang memperindah Mushaf Sundawi secara keseluruhan.
(4) Sumber ragam hias iluminasi, diambil dari motif-motif tradisional yang dikembangkan dan ditambah dengan sumber ragam hias lain khas Jawa Barat. Sumber ragam hias tersebut dapat merupakan wakil dari wilayah-wilayah budaya Jawa Barat, maupun wilayah pemerintahan. Secara keseluruhan terdapat 17 desain wilayah budaya, yang masing-masing akan menempati satu juz berlainan. Selain itu, terdapat tiga desain khusus untuk menghiasi halaman ummul-Qur’an, nisful-Qur’an, dan khatmul-Qur’an, serta beberapa halaman tambahan. Pembagian ragam hias wilayah budaya dan juz dirinci sebagai berikut: [1] Motif Teh I: Juz 1 dan 18; [2] Motif Banten: Juz 2 dan 19; [3] Motif Teh II: Juz 3 dan 20; [4] Motif Bogor, Sukabumi, Cianjur, Tangerang, dan Betawi: Juz 4 dan 21; [5] Motif Indramayu: Juz 5 dan 22; [6] Motif Cirebon: Juz 6 dan 23; [7] Motif Padi: Juz 7 dan 24; [8] Motif Bekasi, Karawang, Purwakarta, Subang, dan sekitarnya: Juz 8 dan 25; Motif Ciamis, Banjar: Juz 9 dan 26; [10] Motif Tasikmalaya: Juz 10 dan 27; [11] Motif Kina: Juz 11 dan 28; [12] Motif Garut: Juz 12 dan 29; [13] Motif Sumedang: Juz 13 dan 30; [14] Motif Bandung (Patrakomala): Juz 14; [15] Motif Gandaria: Juz 15; [16] Motif Hanjuang: Juz 16; [17] Motif Kuningan, Majalengka, Cirebon, dan Indramayu: Juz 17; ditambah tiga motif khusus [A] Motif Jawa Barat I: Ummul-Qur’an; [B] Motif Jawa Barat II: Nisful-Qur’an dan Khatmul-Qur’an; [C] Motif Serang, Lebak, Pandeglang: halaman tambahan. 

[Sumber: Booklet "Penulisan Al-Qur'an Mushaf Sundawi Jawa Barat", 1997.



Kulit "Mushaf Sundawi".



Halaman iluminasi awal mushaf (Surah al-Fatihah dan awal Surah al-Baqarah).



Halaman iluminasi akhir mushaf.




Artikel terkait:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar