Sabtu, 23 Februari 2013

Pencetakan Qur'an

Pencetakan Mushaf Al-Qur’an di Indonesia

Artikel ini pernah dimuat di Jurnal Suhuf, Vol.4 No.2, 2011, hlm. 271-287. File pdf bisa diunduh di http://academia.edu/2637901/Pencetakan_Mushaf_Al-Quran_di_Indonesia. Untuk pengutipan, sebaiknya mengacu pada terbitan di Jurnal Suhuf itu.

Ali Akbar
Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal, Jakarta

Tulisan ini menguraikan perkembangan pencetakan mushaf Al-Qur’an di Indonesia sejak masa awal pertumbuhannya pada pertengahan abad ke-19 hingga dewasa ini. Tulisan ini juga membahas pengaruh mushaf Al-Qur’an cetakan India dan Turki dalam masa awal pencetakan mushaf di Indonesia. Sejumlah penerbit mushaf yang berperan pada masa itu, demikian pula dalam perkembangannya hingga dewasa ini, digambarkan dengan ringkas. Sementara, bagian akhir tulisan ini membahas perkembangan kreatif dalam industri penerbitan mushaf Al-Qur’an di Indonesia.
 Kata kunci: mushaf Al-Qur’an, cetakan, Indonesia.

This article outlines the development of the printing of the Qur’an in Indonesia from its advent in the middle of 19th century to the present.  It also traces the influence of printed Qur’ans from India and Turkey on the early period of Qur’anic printing in Indonesia, and gives brief descriptions of some publishers of the Qur’an throughout the period in question. The last section analyses recent creative developments in the Qur’an publishing industry in  Indonesia.
 Key words:  Qur’an, printing, Indonesia.

Pendahuluan
Tulisan ini ingin memberikan gambaran ringkas perkembangan industri pencetakan mushaf Al-Qur’an di Indonesia. Selama lebih dari 160 tahun perkembangannya hingga dewasa ini, banyak hal-hal menarik untuk dikaji, baik aspek kesejarahan, teks, maupun visu­alnya. Pemahaman akan perkembangan pencetakan mushaf sejak masa awal akan memperjelas pemahaman kita tentang keberadaan mushaf di Indonesia dewasa ini. Di sini, kesinambungan mata rantai sejarah mushaf menjadi penting.
Di Nusantara, mushaf Al-Qur’an cetakan tertua berasal dari Palembang, hasil cetak batu (litografi) Haji Muhammad Azhari bin Kemas Haji Abdullah, selesai dicetak pada 21 Ramadan 1264 (21 Agustus 1848). Sejauh yang diketahui hingga kini, inilah mushaf cetakan tertua di Asia Tenggara.[1] Tinggalan yang diketahui sampai saat ini hanya ada pada koleksi Abd Azim Amin, Palembang (Gambar 1).
Mushaf cetakan Azhari lainnya, dengan tahun yang lebih muda, selesai dicetak pada Senin, 14 Zulqa’dah 1270 H (7 Agustus 1854) di Kampung Pedatu’an, Palembang. Von de Wall, seorang kolektor naskah abad ke-19, pernah membuat catatan lengkap mengenai mushaf ini atas permintaan Residen Belanda di Palembang yang dimuat dalam TBG 1857. Berdasarkan catatan itu, mushaf cetakan tahun 1854 kemungkinan kini ada dalam koleksi Perpustakaan Nasional RI Jakarta.[2] Dengan adanya cetakan mushaf tahun 1854 itu, dapat diketahui bahwa percetakan milik Azhari, paling kurang, produktif dalam masa tujuh tahun (1848-1854). Meskipun demikian, luasnya peredaran mushaf hasil cetakan Azhari tidak diketahui dengan pasti, karena langkanya bukti.

Gambar 1. Mushaf cetakan Muhammad Azhari Palembang, 1848.

Sementara itu, berdasarkan bukti-bukti yang ada, pada akhir abad ke-19 mushaf yang beredar secara luas adalah cetakan Singapura (Gambar 2) dan Bombay (disebut pula Mumbay, India) (Gambar 3). Bukti luasnya peredaran mushaf cetakan Singapura ditemukan di Palembang, Jakarta, Surakarta, Bali, Palu, Maluku, dan Johor. Sedangkan luasnya peredaran mushaf cetakan Bombay terdapat di Palembang, Demak, Madura, Lombok, Bima, dan Filipina Selatan. Bombay, kota di pantai barat India, sejak akhir abad ke-19 memang merupakan pusat percetakan buku-buku keagamaan yang diedarkan secara luas ke kawasan Asia Tenggara.
Gambar 2. Mushaf cetakan Singapura, beredar di Nusantara pada akhir abad ke-19.
 
 Gambar 3. Mushaf cetakan Bombay berhuruf tebal, beredar di Nusantara sejak akhir abad ke-19.
 
Dengan demikian tidak mengherankan jika tradisi cetak mushaf di kawasan ini, pada masa selanjutnya, dimulai dengan mereproduksi mushaf cetakan di India itu.[3] Penerbit Sulaiman Mar’i yang berpusat di Singapura dan Penang, selama bertahun-tahun sejak sekitar tahun 1930-an ketika memulai usahanya, hanya mereproduksi mushaf cetakan Bombay. Itu terlihat dari ciri hurufnya yang tebal. Sebenarnya ada beberapa gaya tulisan mushaf India yang digunakan untuk menulis Al-Qur’an – meskipun kesemuanya ada kemiripan – namun mushaf yang paling banyak dicetak adalah mushaf dengan gaya tulisan dan harakat tebal, yang kemudian sering disebut sebagai “Al-Qur’an Bombay”.
Beberapa jenis mushaf berhuruf tebal itu selama puluhan tahun digunakan oleh masyarakat Asia Tenggara, terutama hingga tahun 1970-an. Sebagian penerbit juga masih mencetak mushaf jenis ini hingga sekarang – di samping mencetak mushaf dengan jenis huruf yang lain, karena semakin banyak pilihan jenis huruf yang bisa digunakan para penerbit. Para penerbit biasanya menggunakan teks mushaf India itu sebagai teks pokok, sementara untuk teks tambahan di bagian depan dan belakang mushaf bervariasi, bergan­tung pada pilihan penerbit. Teks tambahan berupa keutamaan membaca Al-Qur’an, makhārij al-¥uruf, tajwid, doa khatam Al-Qur’an, daftar surah dan juz, dan lain-lain, biasanya ditulis oleh para khattat Indonesia.
Jenis mushaf lain yang sebelumnya juga beredar dan diguna­kan di kawasan Asia Tenggara adalah cetakan Turki (Gambar 4) dan Mesir – meski dalam jumlah yang lebih sedikit, karena kebanyakan hanya dibawa oleh jamaah haji yang pulang dari tanah suci. Jenis mushaf ini pada masa selanjutnya juga dicetak di Indonesia selama puluhan tahun. Turki memiliki tradisi kaligrafi yang sangat indah, terkenal sejak awal abad ke-16. Tradisi kaligrafi itu tercermin nyata dalam mushaf yang ditulis oleh para ahli kaligrafi Kesultanan Turki Usmani. Berbeda dengan mushaf dari India yang menggunakan rasm usmani, mushaf dari Turki selalu ditulis dengan rasm imla’i dan menggunakan model ‘ayat pojok’ (setiap halaman selesai dengan akhir ayat). Mushaf jenis ini biasanya digunakan para hafiz untuk menghafal Al-Qur’an, karena lebih memudahkan mereka dalam pembagian tahap-tahap hafalan. Satu-satunya penerbit yang secara tekun mencetak mushaf ini adalah Penerbit Menara Kudus.
Gambar 4. Mushaf cetakan Turki yang biasa digunakan oleh para hafiz untuk menghafal Al-Qur’an.

Pentashihan dan Lahirnya Mushaf Standar Indonesia
Terkait dengan upaya memelihara kemurnian, kesucian, dan kemuliaan Al-Qur’an, lembaga yang secara resmi mempunyai tugas memeriksa kesahihan suatu mushaf, yaitu Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an (sejak 2007 bernama Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an). Lajnah secara kelembagaan dibentuk pada 1 Oktober 1959 berdasarkan Peraturan Menteri Muda Agama No. 11 Tahun 1959. Keberadaan Lajnah untuk melaksanakan tugas pentashihan mushaf diperkuat lagi dengan Keputusan Menteri Agama No. 1 Tahun 1982 yang menyatakan bahwa tugas-tugas Lajnah, yaitu (1) meneliti dan menjaga kemurnian mushaf Al-Qur’an, rekaman, bacaan, terjemahan, dan tafsir Al-Qur’an secara preventif dan represif; (2) mempelajari dan meneliti kebenaran mushaf Al-Qur’an bagi orang biasa (awas) dan bagi tunanetra (Al-Qur’an Braille), rekaman bacaan Al-Qur’an dalam kaset, piringan hitam, dan penemuan elektronik lainnya yang beredar di Indonesia; dan (3) menyetop pengedaran mushaf yang belum ditashih oleh Lajnah.
Untuk memperlancar tugas pentashihan yang dilakukan oleh Lajnah, terbit Surat Keputusan Menteri Agama Nomor 25 Tahun 1984 tentang Penetapan Mushaf Standar. Mushaf Standar merupa­kan acuan bagi para anggota Lajnah untuk menjalankan tugasnya. Ada tiga jenis Mushaf Standar yang secara resmi menjadi pedoman kerja bagi Lajnah – dan dengan demikian secara resmi dapat diterbitkan dan diedarkan di Indonesia.
Pertama, Mushaf Al-Qur’an Rasm Usmani. Penetapan mushaf ini berdasarkan mushaf cetakan Bombay (Gambar 3), karena model tanda baca dan hurufnya telah dikenal luas oleh umat Islam di Indonesia sejak puluhan tahun sebelumnya – bahkan jika dihitung sejak awal peredarannya di Nusantara telah mencapai satu abad lebih. Kedua, Mushaf Al-Qur’an “Bahriyah”[4] yang cenderung memiliki rasm ilma’i. Mushaf ini modelnya diambil dari mushaf cetakan Turki yang kaligrafinya sangat indah (Gambar 4). Jenis mushaf ini juga telah digunakan secara luas oleh umat Islam di Indonesia, khususnya di kalangan para penghafal Al-Qur’an, dengan ciri setiap halaman diakhiri dengan akhir ayat. Ketiga, Mushaf Al-Qur’an Braille, yaitu mushaf bagi para tunanetra. Mushaf ini menggunakan huruf Braille Arab sebagaimana diputuskan oleh Konferensi Internasional Unesco Tahun 1951, yaitu al-Kitabah al-Arabiyyah an-Nafirah. Dalam penulisannya, jenis mushaf ini menggunakan prinsip-prinsip rasm usmani dalam batas-batas tertentu yang bisa dilakukan.
Untuk kepentingan umat Islam di Indonesia, Mushaf Al-Qur’an Rasm Usmani dan Mushaf Al-Qur’an “Bahriyah” kemudian ditulis oleh putra Indonesia. Mushaf dengan rasm usmani ditulis oleh khattat Ustaz Muhammad Syadali Sa’ad, dan mushaf “Bahriyah” ditulis oleh Ustaz Abdur-Razaq Muhili, tahun 1984-1989. Mushaf dengan rasm usmani telah mengalami penulisan ulang oleh Ustaz Baiquni Yasin dan timnya, pada tahun 1999-2001. Sedangkan mushaf Bralille diterbitkan dan diproduksi, di antaranya oleh Koperasi Karyawan Abiyoso, Bandung.

Perkembangan Penerbitan Mushaf
Generasi pertama pencetak mushaf Al-Qur’an di Indonesia adalah Abdullah bin Afif Cirebon (yang telah memulai usahanya sejak tahun 1930-an bersamaan dengan Sulaiman Mar’i yang berpusat di Singapura dan Penang), Salim bin Sa’ad Nabhan Surabaya (Gambar 7), dan Percetakan Al-Islamiyah Bukittinggi (Gambar 5). Usaha bidang ini kemudian disusul oleh Penerbit Al-Ma’arif Bandung yang didirikan oleh Muhammad bin Umar Bahartha pada tahun 1948 (Gambar 6).[5] Mereka tidak hanya mencetak Al-Qur’an, namun juga buku-buku keagamaan lain yang banyak dipakai umat Islam.
Gambar 5. Mushaf hasil cetakan Percetakan Al-Islamiyah milik HMS Sulaiman, Bukittinggi, 1933.

Gambar 6. Mushaf cetakan Penerbit Al-Ma’arif, Bandung, tahun 1950-an.

Pada tahun 1950-an penerbit mushaf di antaranya adalah Sinar Kebudayaan Islam dan Bir & Company. Penerbit Sinar Kebudayaan Islam menerbitkan mushaf pada tahun 1951. Bir & Co mencetak sebuah mushaf dengan tanda tashih dari Jam’iyyah al-Qurrā’ wal-¦uffā§ (perkumpulan para pembaca dan penghafal Al-Qur’an) tertanggal 18 April 1956. Pada tahun 1960-an Penerbit Toha Putra Semarang memulai kegiatan yang sama, lalu disusul Penerbit Menara Kudus. Penerbit lainnya pada sekitar periode ini adalah Tintamas, dan beberapa penerbit kecil lainnya.
Gambar 7. Mushaf cetakan Salim bin Sa’ad bin Nabhan, Surabaya, 1970.

Gambar 8a, 8b. Mushaf cetakan Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an Departe­men Agama RI tahun 1981/1982.

Sampai dengan dasawarsa 1970-an dan 1980-an sejumlah penerbit di atas masih merupakan “pemain utama” dalam produksi mushaf di Indonesia. Pada periode tersebut muncul sejumlah penerbit mushaf baru, di antaranya, Firma Sumatra, CV Diponegoro, CV Sinar Baru, CV Lubuk Agung, CV Angkasa, CV Al-Hikmah (Bandung); CV Wicaksana, CV Al-Alwah (Semarang); CV Bina Ilmu (Surabaya); CV Intermasa (Jakarta), serta beberapa penerbit kecil lainnya. Jenis mushaf yang dicetak, hingga dasa­warsa tersebut, adalah mushaf asal Bombay yang berciri huruf tebal, dengan tambahan “muatan lokal” berupa tajwid, keutamaan membaca Al-Qur’an, daftar surah, dan lain-lain, dalam tulisan Jawi (huruf Arab-Melayu). Teks tambahan tersebut terdapat di bagian awal atau akhir mushaf yang ditulis oleh ahli kaligrafi tempatan, sehingga perbedaan kaligrafinya terlihat sangat kontras.
Pada dasawarsa 1990-an muncul sejumlah penerbit mushaf yang baru, yaitu PT Al-Amin, PT Inamen Jaya, PT Mutiara, PT Sugih Jaya Lestari, PT Tehazet, CV Doa Ibu, CV Pustaka Amani, PT Zikrul Hakim (Jakarta); CV Jumanatul Ali, CV Sugih Jaya Mukti, CV Sriwijaya, Yayasan Pustaka Fitri (Bandung); CV Asy-Syifa, CV Aneka Ilmu, CV Hilal, PT Tanjung Mas Inti CV Istana Karya Mulya, CV Kumudasmoro, PT Salam Setia Budi (Semarang); CV Karya Abadi Tama, CV Duta Ilmu, CV Al-Hidayah, CV Delta Adiguna, CV Aisyiyah, UD Mekar, CV Terbit Terang, dan CV Ramsa Putra (Surabaya).
Pada dasawarsa 2000-an beberapa penerbit mushaf baru di antaranya, Penerbit Serambi, PT Pena Pundi Aksara, CV Maghfiroh, PT Lautan Lestari, PT Cicero, PT Gema Insani Press, CV Cahaya Qur’an, CV Darus Sunnah, CV Pustaka Al-Kautsar (Jakarta); PT Syamil (sekarang Sygma Eksamedia Arkanleema), Penerbit Mizan, CV Fajar Utama Madani, CV Mi’raj Hasanah Ilmu, CV Jabal Raudhatul Jannah, CV Salamadani (Bandung); CV Karya Putra, PT Masscom Graphy (Semarang); PT Tiga Serangkai, Komari Publishing, CV Era Adicitra (Surakarta); CV Sahara, CV Barokah Putra, CV Kartika Indah, dan  CV Assalam (Surabaya).
Terakhir, mengawali dasawarsa 2010, penerbit baru yang muncul, yaitu Penerbit Kalim, PT Lentera Abadi, CV Bayan Qur’an, Pustaka Jaya Ilmu, Cahaya Intan, PT Juara Persada, Wahyu Media, CV Cahaya Robbani Press, PT Let’s Go (Jakarta); CV Fokus Merdia, CV Nawa Utama (Bandung); Penerbit Djaja Diva, Pinus Book Publisher (Yogyakarta); CV Karya Semesta (Salatiga); Penerbit Duta Surya, dan CV Imam (Surabaya).
Sejak dasawarsa 2000-an, beberapa penerbit yang semula hanya menerbitkan buku keagamaan – dan mereka telah sukses di bidangnya – mulai tertarik untuk menerbitkan mushaf, yaitu Penerbit Mizan, Syamil, Serambi, Gema Insani Press, dan Pustaka Al-Kautsar. Bahkan sebagian lain semula merupakan penerbit buku umum yang telah sukses, yaitu Tiga Serangkai, Cicero, dan Masscom Graphy.
Selepas krisis ekonomi Indonesia tahun 1998, dan sejalan dengan selera masyarakat yang semakin tinggi dalam hal desain buku, serta didukung teknologi komputer yang semakin canggih, tampilan mushaf Al-Qur’an terus-menerus dibenahi para penerbit. Besarnya “kue” pasar mushaf di Indonesia, dengan 200 juta lebih umat Islam, tentu sangat menggiurkan, dan menarik para penerbit untuk ikut merebut pasar. Pangsa pasar mushaf itu pun ke depan akan tumbuh terus, sejalan dengan semakin meningkatnya kesa­daran keagamaan umat seperti tercermin dari ramainya majelis-majelis taklim dan majelis zikir yang dihadiri berbagai lapisan umat Islam.

Mushaf Generasi Baru
Para penerbit mushaf dasawarsa 1980-an, setelah terbitnya Mushaf Standar, hingga awal dasawarsa 2000-an, pada umumnya masih meneruskan tradisi lama dalam produksi mushaf. Mereka kebanyakan hanya mencetak Al-Qur’an Bombay (yang telah distandarkan), Mushaf Standar itu sendiri, atau Al-Qur’an “Bahriyah” model sudut. Sampai sejauh itu tidak ada inovasi yang berarti baik dalam tampilan maupun komposisi isi mushaf. Dalam hal desain kulit, misalnya, pada umumnya hanya menampilkan pola simetris dalam bentuk dekorasi persegi yang berisi ragam hias floral, dengan tulisan “Qur’an Majid”, “Qur’an Karim”, atau “al-Qur’an al-Karim” berbentuk bulat di dalam medalion yang terletak di posisi tengah. Warna yang digunakan pun adalah warna-warna dasar seperti merah, hijau, biru, coklat, kuning, dan emas.
Era baru dalam produksi mushaf muncul sejak awal dasawarsa 2000-an, ketika teknologi komputer semakin maju, dan diman­faatkan dengan baik oleh para penerbit. Perubahan itu, pertama, sangat mencolok dalam hal kaligrafi teks mushaf. Sejak awal dasawarsa itu, hingga sekarang, para penerbit pada umumnya memodifikasi kaligrafi Mushaf Madinah yang ditulis oleh khattat Usman Taha. Mushaf Madinah dicetak oleh Mujamma’ al-Malik Fahd li-Tiba’at al-Mushaf asy-Syarif yang bermarkas di Madinah. Tulisan karya kaligrafer asal Syria itu memang terkenal cantik, dengan keindahan anatomi huruf yang hampir tanpa cela. Ejaan huruf Mushaf Madinah yang tidak sama dengan Mushaf Standar Indonesia disesuaikan oleh para penerbit dengan program komputer tertentu. Memang membutuhkan waktu yang lama dan ketekunan yang ekstra untuk menyesuaikan ejaan dan tanda baca satu per satu. Namun keindahan hurufnya sangat diminati masyarakat, sehingga mushaf dengan huruf yang tipis itu ditunggu masyarakat.
Penerbit mushaf pertama yang memodifikasi kaligrafi Usman Taha adalah Penerbit Diponegoro, Bandung. Setelah itu, selama bertahun-tahun hingga sekarang, banyak sekali penerbit yang memodifikasi kaligrafi tersebut. Bahkan, para penerbit pendatang baru, hampir semuanya menggunakan kaligrafi model itu. Hal ini akhirnya menimbulkan kesan monoton dalam huruf Al-Qur’an di Indonesia pada masa belakangan ini, seakan-akan tidak ada kemajuan dalam hal tulisannya. Sebenarnya, jika para penerbit bisa mengembangkan kaligrafi Al-Qur’an sendiri itu lebih baik, dan tentu saja lebih “terpuji” daripada sekadar memodifikasi tulisan orang lain. Toh di Indonesia sudah banyak kaligrafer muda berbakat yang siap bekerja sama. Namun, menulis satu buah mushaf utuh memang membutuhkan waktu lama dan tentu saja dana yang tidak kecil. Barangkali pertimbangan praktis terakhir inilah yang membuat para penerbit berpikir dua kali, dan mengambil jalan pintas.
Terkait dengan teks Al-Qur’an, sebagian penerbit juga ber­kreasi dengan memberi warna khusus, tidak hanya kata “Allah” atau “rabb”, tetapi pengeblokan ayat-ayat tertentu. Misalnya, ayat-ayat yang berisi doa, ayat sajdah, dan ayat-ayat tentang perempuan. Sebuah penerbit di Bandung mengeblok ayat-ayat khusus tentang perempuan dengan warna ungu (Gambar 9b), sementara penerbit lainnya memberi warna merah.
Pewarnaan pada teks Al-Qur’an juga dilakukan terkait dengan tajwid. Dengan maksud menuntun para pembaca Al-Qur’an yang masih awam ilmu tajwid, sebagian penerbit memberi warna tertentu terkait hukum bacaan dalam ilmu tajwid. Pewarnaan itu dimaksudkan sebagai kode, agar pembaca senantiasa ingat hukum bacaan tertentu dengan melihat kode warna itu. Teknik pewarnaannya ada yang menggunakan blok, arsir, atau warna hurufnya sendiri.
Perubahan lainnya adalah dalam tampilan kulit (cover) mushaf. Para penerbit mushaf era baru tampaknya tidak mau terikat dengan “konvensi” desain kulit mushaf yang selama ini seakan-akan hanya berbentuk persegi. Para penerbit mengeksplorasi bentuk-bentuk baru, ragam hias dan komposisi baru, sehingga kadang-kadang mengesankan suatu mushaf dengan desain yang asing. Warna yang digunakan pun tidak kaku lagi, dengan menggunakan warna-warna cerah, dan disempurnakan dengan lapisan plastik dan vernis yang semakin menambah mewah. Sebagian mushaf juga menggunakan warna tertentu, disesuaikan dengan sasaran pasar yang dituju. Kulit sebuah mushaf dan terjemahannya dengan sasaran pasar perempuan diberi warna ungu, dan ditulis “Al-Qur’anulkarim Special for Woman” dengan bordir (Gambar 9a). 

Gambar 9a, 9b. Al-Qur’anulkarim Special for Woman dengan kulit bordir dan rumbai-rumbai pembatas bacaan (atas), dan arsir ungu pada ayat-ayat kewanitaan (bawah.

Bahan cover mushaf yang digunakan para penerbit juga sangat diperhitungkan. Sebuah mushaf yang ditujukan untuk mahar pernikahan (maskawin) – demikian sebuah penerbit mengiklankan mushafnya – cover-nya dibuat dari kulit yang sangat mewah. Tema back to nature pun dimanfaatkan penerbit mushaf. Penerbit Diponegoro Bandung berkreasi cukup unik, dengan menempelkan jenis daun dan biji-bijian tertentu di kulit mushaf produksinya. Ragam hias yang digunakan pun beragam, tidak lagi terpaku pada ragam hias gaya Timur Tengah, namun sebagian penerbit menggali ragam hias khas Nusantara. Penerbit Mizan Bandung secara konsisten menggali ragam hias Nusantara itu untuk beberapa seri produknya.     


Gambar 10a, 10b, 10c. Ragam model kulit mushaf: Al-Qur’an Tiga Bahasa (paling atas) dan Al-Qur’anul Karim Edisi Do’a (tengah) dengan konsep desain kulit mushaf baru, dan kulit mushaf dengan bordir.

Perubahan pada tampilan Al-Qur’an memang tampak lebih “seru” pada mushaf Al-Qur’an yang disertai terjemahan. Barang­kali, dengan asumsi bahwa Al-Qur’an dan terjemahannya itu adalah “setengah buku”, maka tampilan jenis Al-Qur’an ini lebih banyak ragamnya, dan agak “bebas”. Para penerbit tampak tidak ragu-ragu untuk menawarkan kelebihan produknya dibanding produk sejenis dari penerbit lainnya. Mereka berlomba-lomba mengasah kreati­vitas, baik dalam hal cover, isi, maupun kelengkapan teks tambahannya. Para pembaca semakin dimanjakan dengan berbagai tawaran manis yang diajukan penerbit.
Kelengkapan teks tambahan dalam Al-Qur’an dan terjemahan­nya sangat bervariasi. Misalnya, daftar isi, indeks, pedoman transli­terasi Arab-Latin, petunjuk penggunaan, uraian makhraj huruf, tajwid, waqaf, ayat-ayat sajdah, daftar surah dan juz, doa ma’surat, transliterasi latin, terjemahan per kata (lafziyah), dan lain-lain. Demikian banyak ragamnya, sehingga ada penerbit yang merasa perlu mencantumkan Surat Pendaftaran Ciptaan dari pemerintah seba­gai perlindungan hukum atas ciptaannya. Kelengkapan ‘asesoris’ lainnya adalah pita dan kartu pembatas baca (Gambar 15), kotak pelindung, serta kancing atau resleting agar mushaf lebih aman.
Beberapa penerbit membuat seri terbitan dengan ciri tertentu dan membedakannya dengan nama-nama Allah dalam Asma’ul Husna. Untuk membedakan pangsa pasar, ada pula penerbit yang membuat seri produk mushafnya dengan bahasa asing: masculine, feminine, teenage, classic, glamour, dan minimalist series.
Untuk menarik minat anak-anak, beberapa penerbit juga membuat Al-Qur’an dan terjemahannya dengan ilustrasi dan warna yang khas anak-anak, misalnya bentuk balon, bulan sabit, bintang, awan, atau lengkungan-lengkungan semacam pelangi. Penerbit Mizan menerbitkan I Love My Qur’an, sebuah edisi Al-Qur’an dan terjemahannya dalam satu set, dengan ilustrasi yang unik dan lengkap untuk anak-anak. Ilustrasi itu dimuat dalam jilid terpisah dari teks Al-Qur’annya (Gambar 11a, 11b). Beberapa penerbit juga memberi ilustrasi khas anak-anak pada Juz Amma (juz ke-30).

Gambar 11a, 11b. I Love My Qur’an terbitan Mizan. Ilustrasi dimuat dalam halaman terjemahan, sementara teks Al-Qur’an dibuat dalam jilidan terpisah.
 

Gambar 12a, 12b. Al-Qur’anulkarim for Kids terbitan Syamil (kiri), dan Al-Qur’anul Karim dan terjemahan Edisi Anak terbitan Salam Madani (kanan).




Gambar 13,a, 13b, 13c. Ragam pilihan Juz Amma untuk anak-anak terbitan Gema Insani Press.


Gambar 14 a, 14b. My First Al-Qur’an (disingkat MyFA) dengan potongan jilid melengkung yang unik.

Gambar 15. Al-Qur’an dan terjemahannya dengan ilustrasi yang cenderung non-figuratif.

Sebagian penerbit juga melengkapi Al-Qur’an dan terjemah­annya dengan asbabun nuzul, tafsir ringkas, hadis keutamaan surah tertentu, dan lain-lain. Terjemahan dalam bahasa Inggris juga diperkenalkan oleh sebagian penerbit. Di samping itu, kegemaran (atau kegenitan?) kita menggunakan bahasa Inggris sepotong-sepo­tong dalam dunia pemasaran dan media massa juga dimanfaatkan oleh penerbit mushaf dan terjemahannya, baik untuk nama seri, judul kecil, maupun judul produk. Sebuah judul yang belum lama ini terbit, misalnya Miracle: The Reference, terbitan Syamil. Semen­­tara, produk sejenis yang ditujukan untuk anak-anak diberi judul My First Al-Qur’an (dising­kat MyFA), dengan “12 keunggul­an yang bikin fun” (demikian dalam iklannya) (Gambar 14a, 14b).
Para penerbit terus berinovasi dan ‘bersaing’ dalam menawar­kan keunggulan produknya. Jika beberapa waktu sebelumnya ada produk mushaf dan terjemahannya dengan “7 in 1”, belakangan tidak tanggung-tanggung ada yang “22 in 1”. Keunggulan yang ditawarkan mencakup, di antaranya, terjemahan tafsiriyah, kata kunci (key word), kosakata, tajwid, hadis sahih, tafsir Ibn Kasir, tafsir at-Tabari, asbabun nuzul, khazanah pengetahuan, dan lain-lain, sampai 22 butir.

Penutup
Melihat ‘gegap gempita’-nya produksi mushaf Al-Qur’an (dan terjemahannya) di Tanah Air, demikian pula sambutan masyarakat dewasa ini, tak pelak, mushaf adalah sebuah ‘industri’ baru yang menjanjikan. Di samping itu, melihat kayanya inovasi dan kreati­vitas para penerbit mushaf baru di Indonesia, barangkali tidak berlebihan jika dikatakan bahwa ragam produk mushaf di Indonesia adalah termasuk yang paling kreatif. Tentu, semua usaha kreatif itu adalah untuk para pembacanya agar tertarik untuk terus-menerus membaca dan mengkaji Al-Qur’an.
Dari uraian singkat di atas kita juga bisa mencatat bahwa per­kembangan pencetakan mushaf Al-Qur’an di Indonesia merupakan respons atas proses sejarah, yaitu antara kecanggihan teknologi – yang berbeda-beda pada setiap masa – dan selera masyarakat pembacanya. Para penerbit mushaf, yang berada di antara dua ‘sisi’ itu, dan memanfaatkannya, berusaha untuk memenuhi selera masya­rakat dengan baik – dan kelak nanti akan melengkapi “sejarah mushaf di Indonesia”.[]

Daftar Pustaka
Badan Penelitian dan Pengembangan Agama, Mengenal Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia, Jakarta: Departemen Agama RI, 1984-1985.
Bruinessen, Martin van, Kitab kuning, pesantren dan tarekat: Tradisi-tradisi Islam di Indonesia, Bandung: Mizan, 1995.
Gallop, Annabel Teh, “ Islamic manuscripts from the Philippines in U.S. Collections: a preliminary listing, including two printed Qur’ans, http://www.oovrag.com/bibliography/bibliography13.shtml
Peeters, Jeroen, ”Palembang revisited: Further notes on the printing establishment of Kemas Haji Muhammad Azhari, 1848”, International Institute for Asian Studies (IIAS) Yearbook 1995, 1995, h. 181-190.
Proudfoot, Ian, “Malay books printed in Bombay: a report on sources for historical bibliography”, Kekal Abadi, 1994, 13 (3): 1-20.
Salim, Erwin Y, “Gairah Penerbitan Al-Qur’an Indah”, Gatra, 7 September 2011.
Sudrajat, Enang, “Perkembangan penerbitan dan problema pentashihan”, makalah pada Lokakarya Penerbit Mushaf Al-Qur’an, Bekasi, 29-30 Maret 2011 (tidak terbit).
Yunardi, E Badri, “Sejarah Lahirnya Mushaf Standar Indonesia”, Lektur, 2005, 3 (2): 279-300.


[1] Mushaf ini telah dikaji oleh Jeroen Peeters, “Palembang Revisited: Further Notes on the Printing Establishment of Kemas Haji Muhammad Azhari, 1848” dalam IIAS Yearbook 1995, h. 181-190.

[2] Mushaf cetakan yang sama belum lama ini saya temukan di Masjid Dog Jumeneng, kompleks makam Sunan Gunung Jati, Cirebon. Bagian depan mushaf sudah tidak lengkap, namun bagian belakang masih lengkap, termasuk catatan kolofon.

[3] Lihat Martin van Bruinessen, Kitab kuning, pesantren dan tarekat: Tradisi-tradisi Islam di Indonesia, Bandung: Mizan, 1995, hlm. 136.

[4] “Bahriyah” adalah percetakan milik Angkatan Laut Turki Usmani yang banyak mencetak buku-buku keagamaan, di samping mushaf Al-Qur’an.


[5] Martin, Kitab kuning ..., hlm. 138.

1 komentar:

  1. ini menandakan Masyarakat Indonesia semakin kreatif . luar biasa

    BalasHapus