Senin, 22 April 2013

Kaligrafi Qur'an Banten

Ciri khas kaligrafi Qur’an Banten

Naskah-naskah Qur’an Banten memiliki ciri khat NaskhÄ« yang dapat dikatakan istimewa dalam tradisi penyalinan mushaf Nusantara―sesuatu yang belum ditemukan dalam tradisi kaligrafi di wilayah lain. Dari beberapa mushaf yang ada, kita dapat menemukan “gaya tulisan Banten”.
Secara umum, para penyalin Qur'an di Banten pada masa lalu dapat dikatakan cukup konsisten dengan gaya Naskhī khasnya, dan gaya khat ini ditemukan di sejumlah naskah di beberapa tempat. Khat tersebut terlihat tidak hanya untuk menulis teks Al-Qur'an, yang biasanya dianggap lebih istimewa, namun juga untuk menulis terjemahannya dalam bahasa Jawa (PNRI A.54).
 
Mushaf Banten koleksi PNRI (A.50). (Foto atas kebaikan James Bennett).

Minggu, 07 April 2013

Bibliografi Mushaf Standar

Empat Dokumen tentang Mushaf Standar Indonesia

Di bawah ini tiga artikel dan sebuah buku kecil tentang Mushaf Standar Indonesia. Bahan-bahan tersebut terasa semakin penting, karena banyak kalangan masyarakat Indonesia yang belum mengetahui adanya Mushaf Standar Indonesia. Dan belakangan ini, dengan semakin meluasnya peredaran "Mushaf al-Madinah an-Nabawiyyah" (atau sering disebut sebagai "Qur'an Saudi") di Indonesia, banyak orang mempersoalkan Mushaf Standar, bahkan sebagian "menggugat" dan mempertanyakan urgensi penetapan Mushaf Standar. Satu hal yang mungkin perlu dicatat, bahwa penetapan Mushaf Standar (1984) itu mendahului "lahir"nya "Qur'an Saudi" yang mulai dicetak oleh Mujamma' al-Malik Fahd pada Januari 1985 (Jumadil Awal 1405 H).
Tulisan-tulisan di bawah ini akan memberikan pemahaman latar belakang historis penetapan Mushaf Standar di Indonesia.
1. Buku "Mengenal Mushaf Standar Indonesia", diterbitkan oleh Kementerian Agama RI, tahun 1984-1985
2. E. Badri Yunardi, "Sejarah Lahirnya Mushaf Standar Indonesia"  http://academia.edu/3877006/Sejarah_Lahirnya_Mushaf_Standar_Indonesia_E._Badri_Yunardi
3. Mazmur Sya'roni, "Prinsip-prinsip Penulisan Mushaf Standar Indonesia" http://academia.edu/3877012/Prinsip-prinsip_Penulisan_Mushaf_Al-Quran_Standar_Indonesia_Mazmur_Syaroni_
4. H Abdul Aziz Sidqi, MA, "Sekilas tentang Mushaf Standar Indonesia" http://academia.edu/3877376/Sekilas_tentang_Mushaf_Standar_Indonesia_Abdul_Aziz_Sidqi_
(Satu buku lagi, tentang kaidah penulisan rasm usmani, ditulis oleh Mazmur Sya'roni, akan diunggah menyusul).
"Mushaf Standar Indonesia" terbitan Sa'diyah Putra, Jakarta, 1985.

Senin, 01 April 2013

Belum diketahui

Qur’an cetakan awal yang belum diketahui asal-usulnya

Asal-usul Qur’an cetakan awal (early printed Qur’an) yang beredar di Asia Tenggara pada paruh akhir abad ke-19, berdasarkan temuan hingga kini, tidaklah banyak. Pusat-pusat percetakan yang diketahui, yaitu Palembang, Singapura, Bombay, serta Turki. Di antara mushaf tersebut, yang paling tua, dicetak di Palembang pada 1848 dan 1854 (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/04/mushaf-cetakan-palembang-1848-mushaf.html dan http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/04/quran-cetakan-palembang-1854-kolofon.html). Cetakan lainnya, yang beredar luas di kepulauan Nusantara pada akhir abad ke-19 adalah cetakan Singapura (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/09/mushaf-cetakan-singapura.html) dan cetakan Bombay, India (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/04/mushaf-cetakan-india-koleksi-kms.html#more). Banyak di antara mushaf-mushaf tersebut yang memiliki kolofon (catatan naskah) di bagian belakang mushaf, sehingga tidak ada keraguan tentang asal-usul cetakannya.
Salah satu cetakan yang belum diketahui asal-usulnya adalah mushaf berhuruf tebal yang dari beberapa segi cukup ‘asing’ (lihat gambar). Mushaf tersebut terdiri atas 10 jilid, masing-masing jilid berisi 3 juz. Setiap halaman hanya terdiri atas tujuh baris, suatu hal yang bisa dikatakan tidak pernah ditemui dalam tradisi penyalinan mushaf di Asia Tenggara. Mushaf ini diketahui di tiga tempat, pertama di Masjid Agung Surakarta (10 jilid), Pontianak (satu jilid), dan milik seseorang di Tangerang (10 jilid). Mushaf ini tampaknya tidak beredar luas seperti halnya cetakan Singapura dan Bombay.
Awal Surah Maryam.

Qur'an Kuno-kunoan (3)

Qur’an Kuno-kunoan (3)
Pasar Lokal dan Internasional

Dalam sebuah festival Al-Qur’an yang pertama kali digelar di Jakarta tahun 2011, ada seorang kolektor atau pedagang naskah turut ambil bagian dengan memajang macam-macam koleksinya, berupa naskah keagamaan dan sejumlah mushaf Qur’an. Kebanyakan Qur’an yang dipajang itu, menurut dugaan kuat saya, bukanlah Qur’an tua seperti yang dikesankan. Dilihat dari kertas, tinta, warna iluminasi, serta model penyalinannya, secara pribadi saya yakin bahwa sejumlah Qur’an itu “kuno-kunoan”. Sang kolektor itu rupanya tidak tahu, dan menduga bahwa koleksinya adalah benda kuno. Menurut dia, sekurang-kurangnya berumur 150 tahun. Tetapi, secara fisik, saya yakin bahwa mushaf-mushaf yang umumnya berukuran agak besar itu belum lama dibuat. Tidak semua yang dipamerkan "kuno-kunoan". Ada sejumlah naskah, umumnya berukuran 'wajar', yang memang benar-benar kuno.
Selain berbahan kertas, beberapa mushaf yang dipajang berbahan daun lontar yang dijahit sedemikian rupa sehingga membentuk seperti lembaran kertas. Dari bahan yang digunakan, ini cukup aneh. Sejauh yang saya ketahui hingga kini, mushaf kuno tidak pernah ditulis di atas daun lontar. Daun lontar memang digunakan untuk menulis teks, bahkan hingga kini di Bali, namun untuk teks berhuruf Jawa. Model jilidannya berupa helai daun yang dirangkai/diikat dengan tali, dengan “cover” kayu selebar daun lontar itu yang ditangkupkan.
 
Sejumlah "Qur'an kuno-kunoan".